2025/06/12 by Safina
#Analisis praktik sosial #Habitus #Jokowi #Kesejahteraan masyarakat #Nduga #Papua #Social and Behavioral Sciences
paper · doi:10.17605/osf.io/s7rgm
Judul: Analisis Praktik Sosial Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Nduga, Papua Menggunakan Kerangka Teori Pierre Bourdieu Deskripsi Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik sosial yang dilakukan oleh mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dalam konteks kunjungan dan kebijakannya di wilayah Nduga, Papua. Dengan menggunakan kerangka teori dari sosiolog Prancis Pierre Bourdieu—khususnya konsep-konsep habitus, ranah (field), dan modal (capital)—penelitian ini mencoba mengungkap dinamika sosial-politik yang terjadi antara negara, tokoh politik, dan masyarakat adat Papua dalam konteks pembangunan dan integrasi nasional. Papua, sebagai wilayah dengan sejarah panjang konflik dan marginalisasi, menjadi lokasi penting dalam memahami bagaimana seorang tokoh politik seperti Jokowi membentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada praktik-praktik simbolik dan tindakan sosial Jokowi, termasuk cara beliau membangun kedekatan dengan masyarakat Papua, penggunaan simbol-simbol lokal, pendekatan komunikasi yang digunakan, serta kebijakan-kebijakan strategis yang diterapkan selama kunjungannya di Nduga. Tujuan Penelitian: 1. Menganalisis praktik sosial Jokowi di Nduga dalam konteks relasi kekuasaan dan struktur sosial lokal. 2. Mengidentifikasi bentuk-bentuk modal yang digunakan Jokowi (modal politik, simbolik, sosial) dalam memperkuat posisinya di Papua. 3. Mengkaji pengaruh habitus Jokowi sebagai pemimpin yang memiliki latar belakang populis terhadap pendekatannya di wilayah konflik. 4. Menjelaskan bagaimana interaksi antara ranah politik nasional dan lokal mempengaruhi praktik sosial yang terbentuk selama masa kepemimpinannya di Papua. Hasil yang Diharapkan: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam kajian ilmu sosial-politik, khususnya dalam studi tentang hubungan negara dan masyarakat adat di wilayah pinggiran. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan memperkaya penggunaan teori Bourdieu dalam menganalisis praktik kekuasaan di konteks Indonesia. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi kritis bagi pembuat kebijakan dalam merancang pendekatan yang lebih sensitif terhadap realitas sosial dan budaya lokal, serta mendorong dialog yang lebih inklusif antara pemerintah dan masyarakat Papua. Dengan menguraikan praktik sosial Jokowi melalui perspektif Bourdieu, penelitian ini juga berupaya mengangkat kompleksitas hubungan antara simbolisme kekuasaan, kepentingan politik, serta respons dan penerimaan masyarakat lokal yang kerap kali tersembunyi di balik narasi pembangunan nasional.