vix.ing · top · new · best · stats · spec

Challenges in Enggano Orthography Development

2023/07/10 by Hemmings, Charlotte, Arka, I Wayan, Sangian, Engga Zakaria +2
#Challenges #Enggano #Indonesia #Language Documentation #Orthography Development

paper · doi:10.25894/ldd.329

Abstract

This paper details three challenges encountered in developing an orthography for Enggano (ISO 639-3 Code eno), an endangered Austronesian language of Indonesia. Enggano, as spoken in the 1930s, was documented by Hans Kähler in a grammar, text collection, and dictionary (Kähler 1940, 1975, 1987). However, Kähler used different orthographic conventions in each publication. Moreover, the language has undergone significant sound changes since Kähler’s time (see Yoder 2011). Hence, developing a standard orthography for contemporary Enggano is an important goal of our ongoing documentation project. Following Seifart (2006), we want the orthography to reflect the structure of the language, and also to be practical and easy to use for speakers who are familiar with Indonesian. We report on our progress in developing a phonemic orthography while also adopting the conventions of Indonesian as far as possible. In this paper, we discuss how Enggano central vowels, nasal vowels, and glides present a challenge to this endeavor, and outline the collaborative approach adopted to choose between different orthographic options. Abstrak Artikel ini menjelaskan tiga tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan ortografi bahasa Enggano (ISO 639-3 Code eno), salah satu bahasa yang terancam punah di Indonesia. Enggano, seperti yang dibicarakan pada tahun 1930-an, telah didokumentasikan oleh Hans Kähler dalam tata bahasa, kumpulan teks, dan kamus (Kähler 1940, 1975, 1987). Namun, Kähler menggunakan konvensi ortografi yang berbeda di setiap publikasinya. Selain itu, bahasa Enggano telah mengalami perubahan bunyi yang signifikan sejak itu (lihat Yoder 2011). Oleh karenanya, mengembangkan ortografi standar untuk Enggano kontemporer merupakan tujuan penting dari proyek dokumentasi yang kami sedang lakukan. Merujuk pada Seifart (2006), kami menginginkan sistem ortografi yang tidak hanya mencerminkan struktur bahasa, tetapi juga praktis dan mudah digunakan bagi penutur yang akrab dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kami menyampaikan kemajuan kami dalam mengembangkan ortografi fonemik sambil mengadopsi konvensi bahasa Indonesia sejauh mungkin. Dalam makalah ini, kami membahas bagaimana vokal lisan Enggano, vokal sengau, dan luncuran menghadirkan tantangan bagi upaya ini dan menguraikan pendekatan kolaboratif yang diadopsi untuk memilih di antara opsi ortografis yang berbeda.

Related